Apa yang Dimaksud Komputer Analog?


Ilmuwan Amerika, Vannevar Bush (11 Maret 1890 - 30 Juni 1974), mengembangkan komputer analog besar pertama, yang merupakan pencapaian dalam bidang komputasi analog, pada tahun 1930. Dia pula yang dianggap sebagai pencetus konsep awal yang mendasari munculnya teknologi World Wide Web.

Komputer analog adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan alat penghitung yang bekerja pada level analog. Level analog di sini adalah lawan (dual) dari level digital, di mana level digital adalah level tegangan tinggi dan rendah, yang digunakan dalam implementasi bilangan biner. Secara mendasar, komponen elektronik yang digunakan sebagai inti dari komputer analog adalah op-amp (operational amplifier).

Cikal bakal komputer analog sebenarnya telah dimulai sejak 30.000–14.000 SM, ketika bangsa barbar menggunakan batu karang—yang dinamai petroglyps—untuk mencetak data. Kemudian, pada 9.000 SM, bangsa Timur Tengah menggunakan lempengan tanah liat untuk menghitung. Hal itu lalu disempurnakan pada 2.500 SM, ketika bangsa Cina, Mesir, dan Babilonia menggunakan Abacus—alat hitung sederhana—untuk menghitung.

Seiring bertambahnya waktu, peralatan sederhana di atas disempurnakan oleh alat mekanik—yaitu alat yang tidak sepenuhnya manual, namun pengoperasiannya masih menggunakan tangan. Salah satu alat mekanik itu adalah Pascal Machine, alat penghitung dengan mesin secara mekanik.

Pascal Machine kemudian dikembangkan oleh Gottfried Wilhem von Leibnitz, ketika ia menemukan Calculating Machine. Setelah itu, Charles Babbage menyempurnakannya hingga menjadi Babbage Difference Engine.

Setelah alat manual digantikan alat mekanik, maka alat mekanik pun digantikan alat mekanik elektronik, yaitu alat mekanik yang digerakkan motor elektronik. Mesin elektronik pertama adalah mesin tabulasi kartu yang dibuat oleh Dr. Herman Hollerith. Setelah itu, Dr. Vannevar Bush menciptakan komputer analognya yang pertama.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Artikel Terkait Iptek

2 komentar:

  1. Artikel yang cukup bermanfaat.,

    Semoga semangat menulisnya tidak pudar sampai kapan pun..

    BalasHapus