Mengapa Kumis Hitler Berbentuk Aneh?


Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman, adalah tokoh terkenal yang juga menjadi figur penting sejarah dunia, khususnya dalam Perang Dunia II. Dia tidak hanya dikenal karena kekejamannya terhadap bangsa Yahudi, namun juga karena kumisnya yang berbentuk aneh—kotak, mirip sikat gigi. Mengapa Hitler membentuk kumisnya seperti itu?

Sebelumnya, kumis Hitler tidak aneh seperti itu. Pada masa Perang Dunia I, Hitler ikut terlibat dalam perang, meski waktu itu dia belum menjadi tokoh penting. Dalam perang tersebut, Hitler diketahui memiliki kumis berukuran besar, lebat, dengan lengkungan di kedua ujungnya—mirip kumis Pak Raden dalam serial Si Unyil. Namun, kumis panjang dan lebat itu sering merepotkannya.

Selama perang berkecamuk, Hitler harus berkali-kali memasang masker gas di wajahnya. Kumisnya yang besar sering kali mengganggu karena menghalangi masker gas terpasang kencang di area mulutnya. Gara-gara itu, Hitler pun mencukur kumis tersebut di rumah sakit. Sejak itu pula, kumis Hitler berbentuk kotak seperti yang kita kenal sekarang. Dia tak pernah lagi mengganti bentuk kumisnya yang tampak aneh itu, sampai kemudian Perang Dunia II berkecamuk, dan dia menjadi salah satu tokoh penting dalam perang tersebut.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Berbahayakah jika Kita Tidak Bisa Kentut?


Kentut adalah keluarnya gas dari tubuh melalui anus. Kentut dalam frekuensi yang wajar bisa menjadi tanda kesehatan, karena menandakan sistem pencernaan—khususnya gerakan peristaltik usus hingga anus—berjalan normal. Frekuensi kentut berlebihan biasanya menandakan adanya gangguan pada perut. Namun, yang lebih buruk adalah jika tidak bisa kentut.

Ketidakmampuan tubuh mengeluarkan gas atau kentut dari dalam tubuh bisa berbahaya, karena berpotensi mengancam jiwa. Hal itu terjadi, karena ketidakmampuan tubuh untuk kentut umumnya disebabkan oleh kondisi peritonitis. Peritonitis adalah peradangan (iritasi) pada peritoneum, yaitu jaringan tipis yang melapisi dinding bagian dalam perut dan mencakup sebagian besar organ perut.

Secara umum, gejala peritonitis adalah perut yang terasa sakit, kembung, dan rasa sakitnya kian memburuk ketika perut disentuh atau saat bergerak. Gejala lainnya adalah ketidakmampuan mengeluarkan gas atau kentut dari tubuh, demam dan menggigil, susah buang air besar, kelelahan berlebihan, hanya sedikit buang air kecil, mual dan muntah.

Peritonitis bisa berbahaya dan dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang berbeda. Ada tiga jenis peritonitis, yaitu peritonitis spontan, peritonitis sekunder, dan peritonitis dialisis.

Peritonitis spontan biasanya disebabkan infeksi ascitesascites, yaitu pengumpulan cairan dalam rongga peritoneal, dan biasanya terjadi karena gagal hati atau ginjal. Faktor risiko meliputi penderita penyakit hati, termasuk orang yang mengonsumsi alkohol berlebihan, dan penyakit lain yang mengarah ke sirosis, seperti virus hepatitis kronis (hepatitis B atau hepatitis C).

Peritonitis sekunder memiliki beberapa penyebab utama, salah satunya karena bakteri. Bakteri dapat memasuki peritoneum melalui lubang (perforasi) pada saluran pencernaan. Lubang itu bisa disebabkan usus buntu yang pecah, radang lambung, perforasi usus, atau luka, seperti luka tembak atau pisau.

Peritonitis sekunder juga dapat terjadi jika empedu atau bahan kimia yang dilepaskan pankreas (enzim pankreas) bocor ke selaput rongga perut. Kontaminan asing juga dapat menyebabkan peritonitis sekunder jika masuk ke dalam rongga peritoneal. Hal ini dapat terjadi selama penggunaan kateter dialisis peritoneal atau tabung makan.

Yang ketiga, peritonitis dialisis, adalah peradangan pada selaput rongga perut (peritoneum) yang terjadi ketika seseorang menerima dialisis peritoneal, yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke wilayah tersebut pada prosedur dialisis. Bakteri kulit atau jamur dapat menyebabkan infeksi.

Penyebab peritonitis harus diidentifikasi dan segera diobati. Bila mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera menghubungi dokter atau rumah sakit, karena kondisi itu bisa sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Pengobatan biasanya melibatkan operasi dan antibiotik.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Penemuan Penting dari Masa ke Masa


Kita yang hidup di zaman sekarang telah sangat biasa dengan berbagai benda di sekitar kita, dari batu bata, kertas, kompas, baterai, kereta api, mobil, hingga pesawat terbang. Namun, benda-benda itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan hasil penciptaan dan penemuan yang berkembang dari masa ke masa.

Kertas, misalnya, ditemukan pertama kali pada tahun 105 oleh Tsai Lun di Cina. Sejak pertama kali ditemukan, proses pembuatan kertas terus mengalami perubahan, berkembang di berbagai belahan dunia, hingga berbentuk seperti yang kita kenal sekarang. Berikut ini daftar penemuan penting dari zaman Sebelum Masehi sampai era 1990-an. Daftar berikut mencakup tahun penemuan, tokoh penemu (jika diketahui), dan asal/kebangsaan penemu.
  • 4000 SM: Batu-bata, Mesir dan Assiria.
  • 3000 SM: Roda, Asia.
  • 3000 SM: Pembajak sawah, Mesir dan Mesopotamia.
  • 500 SM: Sempoa, Cina.
  • 300 SM: Ilmu ukur, Euclid, Yunani.
  • 200 SM: Sekrup, Archimedes, Yunani.
  • 105: Kertas pulp, Tsai Lun, Cina.
  • 250: Aljabar, Diophanius, Yunani.
  • 1000: Peluru, Cina.
  • 1100: Kompas magnetik, Cina.
  • 1100: Roket, Cina.
  • 1440: Mesin cetak, Gutenberg, Jerman.
  • 1520: Senapan riffle, Josefh Kotter, Jerman.
  • 1589: Senapan, William Lee, Inggris.
  • 1590: Mikroskop, Zacharies Janssen, Belanda.
  • 1593: Termometer, Galileo Galilei, Italia.
  • 1608: Teleskop, Hans Lippershey, Belanda.
  • 1614: Logaritma, John Napier, Skotlandia.
  • 1636: Micrometer, William Gescoigne, Inggris.
  • 1637: Ilmu ukur koordinat, Rene Descartes, Prancis.
  • 1640: Teori jumlah, Piere De Fermat, Prancis.
  • 1642: Mesin hitung, Blaise Pascal, Prancis.
  • 1643: Barometer, Evangelista Torricelli, Italia.
  • 1650: Pompa air, Otto Von Guericke, Jerman.
  • 1656: Jam bandul, Christian Huygens, Belanda.
  • 1665: Kalkulus, Sir Issac Newlon, Inggris.
  • 1675: Panci masak, Denis Papin, Prancis.
  • 1698: Pompa uap, Thomas Savery, Inggris.
  • 1712: Mesin uap, Thomas Savery, Inggris.
  • 1714: Termometer merkuri, Gabriel Fahrenheit, Jerman.
  • 1735: Kronometer, John Harrison, Inggris.
  • 1752: Penangkal petir, Benyamin Franklin, Amerika.
  • 1765: Alat pintal, James Hargreaves, Inggris.
  • 1765: Kondensor mesin uap, James Watt, Skotlandia.
  • 1768: Hidrometer, Antoine Baume, Prancis.
  • 1783: Parasut, Louis Lenormand, Prancis.
  • 1785: Mesin tenun, Edmund Cartwright, Inggris.
  • 1790: Mesin jahit, Thomas Saint, Inggris.
  • 1793: Pemisah kapas, Ali Whitney, Amerika.
  • 1796: Lithography, Aloys Senefelder, Jerman.
  • 1800: Baterai, Count Alessandro, Italia.
  • 1800: Mesin bubut, Henry Maudslay, Inggris.
  • 1804: Kereta uap, Richard Trevithick, Inggris.
  • 1815: Lampu tambang, Sir Humphry Davy, Inggris.
  • 1816: Metronom, Johan Malzel, Jerman.
  • 1816: Sepeda, Karl von Sauerbronn, Jerman.
  • 1817: Kaleidoskop, David Bretstwer, Skotlandia.
  • 1822: Kamera, Joseph Niepce, Prancis.
  • 1823: Mesin hitung digital, Charles Babbage, Inggris.
  • 1824: Semen, Joseph Aspdin, Inggris.
  • 1825: Magnet listrik, William Sturgeon, Inggris.
  • 1826: Potret, Joseph Niepce, Prancis.
  • 1827: Korek api, John Walker, Inggris.
  • 1828: Tanur, James Neilson, Skotlandia.
  • 1831: Dinamo, Michael Faraday, Inggris.
  • 1834: Mesin penuai, Cyrus McCormik, Amerika.
  • 1836: Revolver, Samuel Colt, Amerika.
  • 1837: Telegraf, Samuel F.B. Morse, Amerika.
  • 1839: Karet vulkanisir, Chales Goddyear, Amerika.
  • 1844: Korek gas, Gustave Pasch, Swedia.
  • 1846: Mesin jahit, Elias Howe, Amerika.
  • 1849: Peniti, Walter Hunt, Amerika.
  • 1852: Giroskop, Leon Foucault, Prancis.
  • 1853: Lift penumpang, Elisha Otis, Amerika.
  • 1855: Converter bessemer, Henry Bessemer, Inggris.
  • 1855: Pembakar bunsen, Robert Bunsen, Jerman.
  • 1855: Film seluloid, Alexander Parkes, Inggris.
  • 1858: Mesin cuci, Hamilton Smith, Amerika.
  • 1859: Mesin pembakaran dalam, Etienne Lenoir, Prancis.
  • 1861: Linolium, Frederick Walton, Inggris.
  • 1862: Senjata api cepat, Richard Gatling, Amerika.
  • 1865: Kunci silinder, Linus Yale Jr., Amerika.
  • 1866: Dinamit, Alfred Nobel, Swedia.
  • 1867: Mesin ketik, Christopher Sholes, Amerika.
  • 1870: Mentega, Hippolyte Mege-Mouries, Prancis.
  • 1873: Kawat duri, Joseph Glidden, Amerika.
  • 1876: Telepon, Alexander Graham Bell, Skotlandia.
  • 1876: Penyapu karpet, Milville Bissell, Amerika.
  • 1877: Fotografi, Thomas Edison, Amerika.
  • 1878: Mikrofon, David Edward Hughes, Inggris/AS.
  • 1879: Lampu pijar, Thomas Edison, Amerika.
  • 1884: Pulpen, Lewis Waterman, Amerika.
  • 1884: Mesin set linotip, Ottmar Mergenthaler, Amerika.
  • 1885: Termos, James Dewar, Skotlandia.
  • 1885: Sepeda motor, Edwar Butler, Inggris.
  • 1885: Transformer listrik, William Stanley, Amerika.
  • 1886: Kipas listrik, Schuyler Wheeler, Amerika.
  • 1886: Pengukur nada, Fredrick Ives, Amerika.
  • 1887: Gramofon, Emile Berliner, Jerman/Amerika.
  • 1887: Monotip, Tolbert Lanston, Amerika.
  • 1887: Mesin mobil, Gottlieb Daimier dan Karl Benz, AS.
  • 1888: Ban angin, John Boyd Dunlop, Skotlandia.
  • 1888: Kamera kodak, George Eastman, Amerika.
  • 1890: Teknik cetak, Karl Klic, Cekoslowakia.
  • 1892: Ritsleting, Whitcomb Judson, Amerika.
  • 1895: Radio, Guglielmo Marconi, Italia.
  • 1895: Sel fotoelektrik, Julius Elster dan Hans Geitel, Jerman.
  • 1895: Pisau silet, King C. Gillette, Amerika.
  • 1897: Mesin diesel, Rudolf Diesel, Jerman.
  • 1898: Kapal selam, John R Holland, Irlandia/Amerika.
  • 1899: Tape recorder, Valdemar Poulsen, Denmark.
  • 1901: Pengisap debu, Cecil Booth, Inggris.
  • 1902: Radio-telepon, Reginald Fessenden, Amerika.
  • 1903: Kapal terbang, Wilbur dan Orville Wright, Amerika.
  • 1904: Dioda, John Fleming, Inggris.
  • 1906: Trioda, Lee De Forest, Amerika.
  • 1908: Bakelite (plastik), Leo Baekeland, Belgia.
  • 1908: Kertas kaca, Jacques Bran Denberger, Swiss.
  • 1911: Mesin pungut panen, Benyamin Holt, Amerika.
  • 1913: Pengukur radiasi, Hans Geiger, Inggris
  • 1914: Tank, Ernest Swinton, Inggris.
  • 1915: Neon, Irving Langmuir, Amerika.
  • 1918: Senapan otomatis, John Browning, Amerika.
  • 1925: Sistem kerja televisi, John Logie Baird, Skotlandia.
  • 1925: Pembeku makanan, Clerance Birdseya, Amerika.
  • 1926: Roket berbahan bakar cair, Robert H. Goddard, Amerika.
  • 1928: Pencukur listrik, Jacob Schick, Amerika.
  • 1929: Sistem listrik televisi, Vladimir Zworykin, Amerika.
  • 1930: Mesin jet, Frank Whittle, Inggris.
  • 1931: Pemecahan atom, Ernest Lawrence, Amerika.
  • 1935: Meteran parkir, Carlton Magee, Amerika.
  • 1935: Radar, Robert Watson-Watt, Skotlandia.
  • 1935: Nilon, Wallace Carothers, Amerika.
  • 1939: Mikroskop listrik, Vladimir Sqorykin, dkk Amerika.
  • 1944: Komputer digital, Howard Aiken, Amerika.
  • 1946: Komputer elektrik, J. Prosper Eckert dan John W Mauchly, Amerika.
  • 1947: Kamera polaroid, Edwin Land, Amerika.
  • 1948: Transistor, John Bardeen, Walter Brattain, dan William Shockley.
  • 1948: Mesin fotokopi, Chaster Carlson, Amerika.
  • 1948: Piringan hitam, Peter Goldmark, Amerika.
  • 1954: Maser (cikal bakal sinar laser), Charles H Townes, Amerika.
  • 1954: Baterai tenaga matahari, D. Pearson, C. Fuller, dan G. Pearson, Amerika.
  • 1955: Helikopter, Christopher Cockerel, Inggris.
  • 1955: Pil kontrasepsi, Gregory Pincus, Amerika.
  • 1956: Video tape, A. Poniatoff, Amerika.
  • 1959: Sel bahan bakar, Francis Bacon, Inggris.
  • 1960: Laser, Theodore Maiman, Amerika.
  • 1965: Holography, D. Gabor, Hongaria.
  • 1971: Antenna EMI, Godfrey Hounsfild, Inggris.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Mengapa Posisi Setir Mobil di Indonesia Berada di Kanan?


Sebagian negara memberlakukan aturan menggunakan lajur sebelah kiri untuk berkendara, sehingga posisi setir pada mobil berada di sebelah kanan. Negara yang memberlakukan aturan semacam itu disebut left-driving countries. Beberapa negara yang termasuk left-driving countries di antaranya Indonesia, Inggris, Jepang, Australia, India, Singapura, dan Malaysia.

Sebaliknya, sebagian negara yang lain memberlakukan aturan menggunakan lajur sebelah kanan untuk berkendara, sehingga posisi setir pada mobil berada di sebelah kiri. Negara yang memberlakukan aturan semacam itu disebut right-driving countries. Beberapa negara yang termasuk right-driving countries di antaranya Amerika Serikat, mayoritas negara Eropa (kecuali Inggris), Cina, dan lainnya.

Di dunia ini, lebih banyak negara yang menerapkan penggunaan lajur kanan untuk berkendara daripada yang menerapkan penggunaan lajur kiri. Hanya ada 75 negara (termasuk Indonesia) yang menganut left-driving countries, sementara sekitar 125 negara lain menerapkan aturan right-driving countries atau menggunakan lajur kanan. Jika dilihat dari statistik populasi, maka sekitar 34 persen penduduk dunia berasal dari left-driving countries, sementara 66 persen lainnya berasal dari right-driving countries.

Mengapa Indonesia menggunakan lajur sebelah kiri untuk berkendara, sehingga posisi setir mobil ada di sebelah kanan? Tidak ada sejarah yang pasti mengenai hal ini, namun diperkirakan ada dua faktor yang mempengaruhi aturan tersebut.

Pertama, mayoritas mobil yang ada di pasaran Indonesia adalah buatan Jepang, yang menganut left-driving countries. Akibatnya, Indonesia pun secara tak langsung terpengaruh menggunakan setir mobil sebelah kanan, sehingga menerapkan aturan penggunaan jalan di lajur kiri.

Kedua, posisi Indonesia diapit oleh negara-negara persemakmuran Inggris seperti Australia, Selandia Baru, Singapura, dan Malaysia, yang berkiblat pada Inggris, yang juga menganut left-driving countries. Secara tak langsung, kebiasaan itu pun berpengaruh pada masyarakat dan politik dagang negara kita.

Hmm… ada yang mau menambahkan?



Read more »

Tubuh Manusia Ternyata Bisa Bercahaya


Berdasarkan studi, tubuh manusia ternyata bisa memancarkan cahaya, meski dalam kuantitas kecil pada tingkatan yang bisa naik dan turun per hari. Kenyataan itu diungkap oleh penelitian yang dilakukan tim ilmuwan di Jepang.

Sebelumnya, ada penelitian yang pernah menyimpulkan bahwa tubuh manusia dapat memancarkan cahaya yang terlihat seribu kali lebih redup dari tingkatan yang bisa terlihat oleh mata telanjang yang sangat sensitif. Kenyataannya, secara virtual, semua makhluk hidup dapat memancarkan cahaya yang sangat lemah, yang diduga merupakan reaksi bioproduk dari biokimia yang menyertakan radikal bebas di dalamnya.

Untuk mengetahui hal itu lebih mendalam, Masaki Kobayashi dan timnya dari Tohoku Institute of Technology di Sendai, Jepang, mengadakan penelitian lanjutan. Dalam penelitian, mereka menggunakan kamera sensitif yang mampu mendeteksi setiap satuan energi cahaya. Lima orang pria sehat berusia 20 tahun ditempatkan di depan kamera di sebuah ruangan yang sangat gelap, dengan bertelanjang dada.

“Mereka ditempatkan dalam ruangan gelap gulita, dan menghadap kamera selama 20 menit, setiap tiga jam sekali,” ujar Masaki Kobayashi menceritakan studinya. “Uji coba ini diterapkan selama tiga hari, dari pukul 10 pagi hingga 10 malam.”

Hasil uji coba menunjukkan, tubuh lima pria itu tampak bersinar dan meredup secara bergantian sepanjang hari. Titik minimum cahaya terjadi pada pukul 10 pagi, sementara titik maksimum pancaran cahaya terjadi pukul 4 sore hari. Kenyataan itu diartikan bahwa pukul 10 pagi adalah titik redup paling rendah yang dipancarkan tubuh, sedangkan sinar paling benderang yang dihasilkan tubuh terjadi pada pukul 4 sore. Cahaya itu kemudian secara bertahap meredup secara perlahan.

Para ilmuwan memperkirakan, keberadaan sinar itu disebabkan oleh emisi cahaya yang berhubungan dengan jam tubuh kita, yang kemungkinan besar berhubungan dengan fluktuasi irama metabolisme yang ditampilkan tubuh sepanjang hari.

Hmm… bagaimana menurutmu?


Read more »