Mengapa Ada Orang yang Kidal?


Kebanyakan orang biasa menggunakan organ tubuh (khususnya tangan) sebelah kanan untuk melakukan banyak hal, dan hanya sedikit kegiatan yang kita lakukan dengan mengandalkan tangan kiri. Namun, ada sebagian kecil orang yang justru lebih dominan tangan kirinya dalam beraktivitas, dan orang semacam itu lazim disebut kidal. Mengapa ada orang yang kidal?

Otak kita terbagi atas dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak bagian kanan mengatur anggota tubuh sebelah kiri, sedangkan otak bagian kiri mengatur tubuh sebelah kanan. Otak kiri, seperti kita tahu, berhubungan dengan hal-hal atau pemikiran logis, sementara otak kanan berkaitan dengan hal-hal abstrak. Sebagian besar manusia lebih dominan menggunakan otak bagian kiri (pemikiran logis), karenanya rata-rata kita pun lebih terbiasa menggunakan anggota tubuh sebelah kanan.

Di sisi lain, pengguna dominan otak kanan bisa dibilang sangat jarang. Kenyataannya, jumlah seniman selalu lebih sedikit dibanding akuntan, sebagaimana jumlah orang yang jago lukis juga lebih sedikit dibanding yang jago matematika. Karena itu pula, jumlah orang kidal pun jauh lebih sedikit dibanding orang yang tidak kidal.

Diperkirakan, sebanyak 88 persen dari total populasi manusia adalah orang normal (tidak kidal), dan hanya ada 11 persen orang yang kidal. Sisanya adalah orang  ambidekster (terampil menggunakan keduanya).

Lalu apa penyebab seseorang menjadi kidal? Penelitian menunjukkan bahwa penyebab kidal adalah kurangnya pasokan oksigen ke otak ketika janin masih dalam kandungan. Karenanya, bayi kembar memiliki peluang lebih besar untuk kidal, karena harus berbagi oksigen dengan saudaranya.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Mengapa Daun Teratai Tidak Bisa Basah?


Di permukaan kolam, sering terdapat tumbuhan teratai yang terapung di atas air. Meski hidup bersama air, daun-daun teratai tidak pernah tampak basah. Bahkan umpama kita tenggelamkan ke dalam air hingga seluruh bagiannya terkena air, daun teratai tetap tidak bisa basah. Mengapa daun teratai sepertinya anti terhadap air?

Daun teratai ditutupi oleh permukaan kasar yang memiliki tonjolan-tonjolan berlilin, yang menyebabkan air membentuk gumpalan, dan tergelincir jatuh dari daun. Karenanya, meski telah tersentuh air, tidak sedikit air pun yang bisa mengalir masuk ke dalam daun, karena daun menumpahkan air yang kebetulan ada di atasnya.

Mikroskop elektron menunjukkan bahwa, di dekat ujung daun teratai, tonjolan-tonjolan berlilin digantikan oleh permukaan halus yang terdiri dari lipatan-lipatan dan alur-alur, sehingga mencegah aliran balik dari tetesan-tetesan air. Artinya, daun teratai lebih tahan terhadap perendaman dibanding daun lain yang memiliki permukaan halus.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Mengapa Kucing Bisa Berburu Dalam Gelap?


Kucing memiliki sebuah membran yang mirip cermin, yang terletak di belakang mata mereka. Membran itu disebut tapetum lucidum. Dengan adanya membran spesial itu, kucing dapat berburu dalam gelap, bahkan yang paling pekat.

Membran pada mata kucing bekerja dengan cara memantulkan kembali cahaya setelah cahaya tersebut melewati retina, yang memberikan kesempatan bagi kucing untuk mengambil foton cahaya lagi, ketika cahaya kembali lewat untuk kedua kalinya. Karena hal itulah, kucing memiliki penglihatan yang sangat tajam, bahkan dalam kegelapan.


Bagaimana Ikan di Laut Mengenali Jalan?

Drum fish atau ikan drum dianggap ikan istimewa, karena memiliki kemampuan mendengar menggunakan “air bladders”. Ikan tersebut mendeteksi getaran suara, dan menghubungkan getaran itu ke telinga bagian dalam melalui satu set tulang di tengah telinga, yang disebut weberian apparatus. Setelah itu, sel-sel rambut dalam telinga bagian dalam ikan itu akan merespon getaran tersebut, dan mentransfer informasi suara ke otak.

Karena kemampuan itu, drum fish pun menjadi semacam pemimpin atau penunjuk jalan bagi banyak ikan lain di lautan, ketika mereka berenang hingga jauh agar aman dari kemungkinan serangan predator.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Bagaimana Tikus Mengenali Keadaan Sekelilingnya?


Umumnya, tikus memiliki penglihatan yang tidak tajam. Tetapi, mereka mampu mengatasi kekurangan itu dengan sungut yang ada pada moncongnya. Tikus memiliki rambut atau sungut yang panjang pada moncong, yang disebut vibrissae, dan rambut-rambut itu berfungsi seperti tongkat bagi orang buta.

Dengan menggetarkan sungut mereka pada benda di hadapannya, tikus akan dapat mencitrakan bentuk dan keadaan di sekelilingnya. Karenanya, meski daya penglihatannya tidak tajam, hewan itu dapat berlari tanpa menabrak, atau dapat kabur dengan mudah ketika menghadapi manusia atau pemangsa.


Mengapa Kalajengking Memendarkan Cahaya?

Kalajengking dapat memendarkan cahaya, khususnya pada malam hari. Namun, sebenarnya, hewan itu tidak benar-benar menghasilkan cahaya sendiri dari tubuhnya sebagaimana hewan-hewan penghasil bioluminesensi lainnya.

Kalajengking memiliki zat kimia dalam eksoskeleton mereka, dan zat itu bersinar ketika berada di bawah sinar ultraviolet. Karena itulah, kadang kita menyaksikan kalajengking memendarkan cahaya, karena pada waktu itu kebetulan ada sinar ultraviolet yang mengenai tubuhnya.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Read more »

Mengapa Rata-rata Orang Indonesia Berhidung Pesek?


Dibanding rata-rata hidung orang Eropa yang mancung, rata-rata hidung orang Indonesia memang lebih pesek. Mengapa ada orang yang berhidung mancung, dan ada orang yang berhidung pesek?

Dalam proses adaptasi yang telah dimulai jutaan tahun lalu, tubuh manusia terus berusaha menyesuaikan diri dengan alam sekitar atau tempat hidupnya. Dalam proses itu, bentuk hidung pun dibutuhkan untuk memberi perlindungan pada manusia yang tinggal di daerahnya masing-masing. Kenyataan bahwa rata-rata orang Indonesia berhidung pesek karena bentuk hidung semacam itulah yang sesuai dengan udara tropis di Indonesia.

Dibanding Eropa, alam Indonesia jelas berbeda. Alam Eropa lebih dingin dan kering, karena terletak di daerah subtropis (daerah dekat Kutub Utara). Di sana juga terdapat banyak serbuk sari tanaman saat musim semi dan musim panas. Kenyataan alam itu membutuhkan bentuk hidung yang tepat untuk bertahan hidup.

Hidung orang Eropa berbentuk mancung, panjang, dengan rongga hidung yang sempit, agar dapat menghangatkan udara yang dihirup. Sebelum masuk paru-paru, udara Eropa yang dingin mesti dihangatkan dulu agar sama dengan suhu tubuh manusia. Hidung mancung mereka juga dilengkapi banyak rambut untuk menyaring serbuk sari yang beterbangan saat musim semi dan musim panas.

Hal itu tentu berbeda dengan alam Indonesia yang panas dan lembap, karena terletak di daerah tropis. Orang Indonesia rata-rata berhidung pendek, dengan rambut yang tidak terlalu banyak. Bentuk hidung semacam itu cocok dengan udara daerah tropis yang sudah hangat, dan tidak banyak serbuk sari tanaman.

Saat orang Indonesia (atau orang daerah tropis lainnya) tinggal di daerah subtropis, mereka cenderung sering pilek dan batuk. Hal itu disebabkan bentuk hidung yang pendek, dan tidak sesuai dengan kondisi alam di sana. Artinya, bentuk hidung pesek rata-rata orang Indonesia memang telah sesuai dan tepat dengan kondisi alam tempat tinggalnya.

Hmm… ada yang mau menambahkan?



Read more »