Berbahayakah jika Kita Tidak Bisa Kentut?

 Berbahayakah jika Kita Tidak Bisa Kentut?

Kentut adalah keluarnya gas dari tubuh melalui anus. Kentut dalam frekuensi yang wajar bisa menjadi tanda kesehatan, karena menandakan sistem pencernaan—khususnya gerakan peristaltik usus hingga anus—berjalan normal. Frekuensi kentut berlebihan biasanya menandakan adanya gangguan pada perut. Namun, yang lebih buruk adalah jika tidak bisa kentut.

Ketidakmampuan tubuh mengeluarkan gas atau kentut dari dalam tubuh bisa berbahaya, karena berpotensi mengancam jiwa. Hal itu terjadi, karena ketidakmampuan tubuh untuk kentut umumnya disebabkan oleh kondisi peritonitis. Peritonitis adalah peradangan (iritasi) pada peritoneum, yaitu jaringan tipis yang melapisi dinding bagian dalam perut dan mencakup sebagian besar organ perut.

Secara umum, gejala peritonitis adalah perut yang terasa sakit, kembung, dan rasa sakitnya kian memburuk ketika perut disentuh atau saat bergerak. Gejala lainnya adalah ketidakmampuan mengeluarkan gas atau kentut dari tubuh, demam dan menggigil, susah buang air besar, kelelahan berlebihan, hanya sedikit buang air kecil, mual dan muntah.

Peritonitis bisa berbahaya dan dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang berbeda. Ada tiga jenis peritonitis, yaitu peritonitis spontan, peritonitis sekunder, dan peritonitis dialisis.

Peritonitis spontan biasanya disebabkan infeksi ascitesascites, yaitu pengumpulan cairan dalam rongga peritoneal, dan biasanya terjadi karena gagal hati atau ginjal. Faktor risiko meliputi penderita penyakit hati, termasuk orang yang mengonsumsi alkohol berlebihan, dan penyakit lain yang mengarah ke sirosis, seperti virus hepatitis kronis (hepatitis B atau hepatitis C).

Peritonitis sekunder memiliki beberapa penyebab utama, salah satunya karena bakteri. Bakteri dapat memasuki peritoneum melalui lubang (perforasi) pada saluran pencernaan. Lubang itu bisa disebabkan usus buntu yang pecah, radang lambung, perforasi usus, atau luka, seperti luka tembak atau pisau.

Peritonitis sekunder juga dapat terjadi jika empedu atau bahan kimia yang dilepaskan pankreas (enzim pankreas) bocor ke selaput rongga perut. Kontaminan asing juga dapat menyebabkan peritonitis sekunder jika masuk ke dalam rongga peritoneal. Hal ini dapat terjadi selama penggunaan kateter dialisis peritoneal atau tabung makan.

Yang ketiga, peritonitis dialisis, adalah peradangan pada selaput rongga perut (peritoneum) yang terjadi ketika seseorang menerima dialisis peritoneal, yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke wilayah tersebut pada prosedur dialisis. Bakteri kulit atau jamur dapat menyebabkan infeksi.

Penyebab peritonitis harus diidentifikasi dan segera diobati. Bila mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera menghubungi dokter atau rumah sakit, karena kondisi itu bisa sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Pengobatan biasanya melibatkan operasi dan antibiotik.

Hmm… ada yang mau menambahkan?

Related

Tubuh Manusia 5995753227233486773

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item