Apa Sebenarnya yang Dimaksud Efek Rumah Kaca?


Sebenarnya, “rumah kaca” yang dimaksud dalam konteks “efek rumah kaca” bukanlah rumah yang memiliki banyak kaca.

Matahari, yang merupakan pusat alam semesta, memancarkan sinar yang tampak dan yang tidak tampak. Rumah kaca yang dimaksud di sini adalah rumah yang dapat menyerap cahaya matahari yang tampak, sedangkan yang tidak tampak dipantulkan kembali.

Panas radiasi cahaya matahari yang tampak itu diserap oleh tanah dan tanaman, sehingga suhunya hangat. Tanah dan tanaman yang hangat akan mengeluarkan sinar infra merah yang tidak tampak, namun dipantulkan kaca sehingga tidak bisa keluar. Sinar tidak tampak yang terperangkap itu menyebabkan suhu dalam rumah kaca meninggi, dan suhu yang hangat membuat tanaman jadi lebih subur.

Jadi, rumah kaca yang dimaksud dalam konteks “efek rumah kaca” adalah rumah yang dibuat agar tanaman menjadi subur, dengan membuat suhu dalam rumah tetap hangat. Gedung-gedung yang memiliki banyak kaca itu buka rumah kaca.

Nah, bumi juga menerima sinar yang tampak dan tidak tampak dari matahari, serta memancarkan sinar infra merah yang tak tampak menembus langit. Namun, pada masa sekarang, banyak gas yang menyebabkan sebagian sinar infra merah itu dipantulkan lagi ke bumi. Hal itulah yang kemudian disebut “efek rumah kaca”.

Seperti rumah kaca, suhu bumi kemudian menjadi lebih hangat. Lama-lama, karena kondisi suhu yang hangat itu, es di kutub mencair, air laut meninggi, cuaca berubah, dan bumi pun menjadi tidak nyaman.

Gas-gas yang menyebabkan sinar infra merah terpantul kembali adalah karbondioksida, metanol, nitrogen oksida, dan lain-lain. Dulu, gas-gas itu sedikit, namun sekarang bertambah banyak karena asap dari kendaraan bermotor, pembakaran bahan bakar di pabrik-pabrik, asap kebakaran hutan, dan lain-lain.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Artikel Terkait Iptek

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar