Bagaimana Proses Lahirnya Sumpah Pemuda?


Selain hari Proklamasi, peristiwa Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa Bangsa Indonesia telah dilahirkan, sebagaimana tercantum dalam tiga rumusannya: (1) Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; (2) Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; (3) Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Lahirnya Sumpah Pemuda adalah hasil perkembangan dari organisasi Budi Utomo yang telah lahir sebelumnya. Keberadaan Budi Utomo melahirkan beberapa organisasi kepemudaan, seperti Tri Koro Darmo (Jong Java), Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Betawi, dan lain-lain. Organisasi-organisasi itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda.

Untuk mewujudkan persatuan organisasi-organisasi tersebut, mereka kemudian melakukan pertemuan dalam rangka mencapai kata mufakat. Pada 15 November 1925, mereka mengadakan kongres pemuda untuk membentuk panitia pelaksanaan kesepakatan bersama. Kemudian, pada 30 April 1926, organisasi-organisasi itu berkumpul dan membentuk rapat besar yang dikenal sebagai Kongres Pemuda I.

Dua tahun setelah itu, pada 26-28 Oktober 1929, organisasi-organisasi pemuda, mahasiswa, dan partai politik, berkumpul kembali dalam Kongres Pemuda II, dengan agenda utama mempersatukan dan mengobarkan semangat perjuangan dalam diri masing-masing peserta. Pada hari ketiga kongres itulah Sumpah Pemuda dideklarasikan.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Muhammad Yamin pada sebuah kertas, ketika Mr. Sunario—sebagai utusan kepanduan—tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo, dan kemudian dijelaskan panjang lebar oleh Muhammad Yamin.

Pada hari itu, secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia, dan di hari itu pula untuk pertama kalinya W.R. Supratman memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” melalui gesekan biola yang diiringi alunan piano Dolly, putri Haji Agus Salim.

Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Artikel Terkait Sejarah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar