Kapan Misi Perdamaian RI ke Timur Tengah?


Republik Indonesia mengirimkan misi perdamaian ke Timur Tengah pada 1 Januari 1957.

Sebelumnya, pada 16 Agustus 1956, diadakan konferensi di London atas prakarsa Menteri Luar Negeri Amerika, John Foster Dulles, untuk menyelesaikan masalah Terusan Suez. Konferensi itu dihadiri oleh 20 negara, tetapi Mesir tidak hadir. Konferensi tersebut mencapai persetujuan tentang penyelesaian masalah Terusan Suez, yang disebut Konferensi London. Hasil Konferensi London menyebutkan, antara lain, akan dibentuk suatu badan internasional untuk menangani Terusan Suez.

Namun, Gamal Abdul Nasser tetap teguh pada pendirian untuk menasionalisasi Terusan Suez, dan menolak hasil keputusan Konferensi London. Akibat sikap tersebut, ketegangan di kawasan Timur Tengah pun memuncak kembali. Akhirnya, masalah Terusan Suez dimajukan dalam Sidang Dewan Keamanan PBB pada September 1956. Sekretaris Jenderal PBB, Dag Hammerskjold, menanggapi masalah Terusan Suez dengan memberi beberapa usulan yang intinya mendamaikan konflik menyangkut Terusan Suez.

Mesir menerima usulan yang diberikan oleh Sekjen PBB tersebut, namun tetap menolak hasil Konferensi London. Hal itu menjadikan Inggris dan Prancis menganggap Mesir secara sepihak telah melakukan pelanggaran internasional. Karenanya, Inggris dan Prancis pun secara bersamaan menyerang wilayah Mesir. Serangan gabungan itu berhasil menduduki daerah sepanjang Terusan Suez dan Port Said. Setelah itu, Israel ikut melibatkan diri menyerang Mesir, dan berhasil menduduki wilayah Gurun Sinai.

Akibat serangan gabungan yang tertuju pada Mesir tersebut, Rusia, Hungaria, dan sekutunya pun bersiap membantu Mesir. Tindakan itu kemudian memancing Amerika Serikat untuk melibatkan diri dalam masalah Terusan Suez dengan membantu sekutunya, Inggris dan Prancis. Akhirnya, Krisis Suez pun menjadi krisis internasional, dan PBB segera menggelar sidang umum untuk membahas Krisis Suez.

Atas usul Menteri Luar Negeri Kanada, Lester B. Pearson, Dewan Keamanan PBB harus segera membentuk pasukan penjaga perdamaian di Mesir, yang akan ditempatkan di sepanjang perbatasan Mesir-Israel. Pasukan penjaga perdamaian PBB itu disebut United Nations Emergency Forces (UNEF).

Dalam rangka ikut serta menjaga perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, Indonesia mengirimkan Kontingen Garuda I ke Timur Tengah untuk membantu mengatasi pertikaian yang terjadi menyangkut Terusan Suez tersebut. Misi Kontingen Garuda I itu dipimpin oleh Kolonel Inf. Hartoyo, yang kemudian diganti oleh Letnan Kolonel Suadi, dengan kekuatan satu Detasemen (551 orang personel).

Pengiriman pasukan penjaga perdamaian oleh Indonesia dalam mengatasi Krisis Suez tersebut juga untuk menunjukkan solidaritas sebagai sesama negara yang baru merdeka.

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Artikel Terkait Sejarah

1 komentar: