Apa yang Dimaksud Revolusi Kebudayaan Cina?


Revolusi Kebudayaan adalah revolusi besar yang terjadi di Republik Rakyat Cina, antara tahun 1966 dan 1976, yang digerakkan oleh Mao Zedong. Revolusi yang dianggap sebagai revolusi terbesar di dunia itu ditandai dengan dibentuknya Pengawal Merah, sebuah unit paramiliter yang mayoritas anggotanya adalah mahasiswa-mahasiswa yang mendukung Mao dan ajaran-ajarannya.

Sebelumnya, pada 16 Mei 1966, pemimpin Cina Mao Zedong telah mengkonsep sebuah gerakan revolusi yang ia sebut sebagai The Great Proletarian Cultural Revolution, yang mencapai puncaknya pada 13 Agustus 1966. Meski namanya “Revolusi Kebudayaan”, namun objek yang direvolusi tidak hanya terbatas pada kesenian, namun seluruh aspek dan lembaga kemasyarakatan.

Revolusi itu menghapus batasan kelas dalam masyarakat yang telah ada selama ratusan tahun di Cina, dan terjadi secara menyeluruh meliputi kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan berbagai organ pemerintahan. Revolusi Kebudayaan merupakan jawaban Mao atas masalah yang ditimbulkan oleh restorasi kapitalisme yang dilakukan Soviet pada 1956.

Dalam waktu cepat revolusi itu memberikan dampak yang amat besar sekaligus luas bagi masyarakat Cina, karena banyak sektor ekonomi terhenti saat revolusi dijalankan. Di awal revolusi, sejumlah besar Pengawal Merah tiba di Beijing dan menyebabkan kekacauan jadwal kereta api. Tak terhitung banyaknya bangunan kuno, artefak, barang antik, buku, dan lukisan, dihancurkan oleh pasukan tersebut.

Mao menggerakkan revolusi itu dengan kekuatan tulisannya, dan sampai Desember 1967, lebih dari 350 juta kopi tulisan Mao dicetak dan disebarluaskan. Setelah sepuluh tahun revolusi itu berlangsung, sistem pendidikan di Cina hancur secara perlahan. Ujian masuk perguruan tinggi dibatalkan selama dekade itu, sementara ribuan intelektual dikirim ke kamp buruh, atau dibunuh.

Rakyat Cina juga melaporkan hak asasi mereka dirampas selama revolusi itu berlangsung. Jutaan orang dipindahkan secara paksa, kaum muda di kota dipaksa tinggal di desa, dan dipaksa mengabaikan segala bentuk standar pendidikan untuk mengajarkan propaganda Partai Komunis Cina.

Salah satu misi revolusi itu adalah mewujudkan visi Mao, yang disebut “Lompatan Jauh ke Depan”. Berbeda dengan Soviet yang bertumpu pada industri berat, Mao menggalakkan pertanian yang ditunjang industri kecil di pedesaan. Karenanya, para petani harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan hasil panen, dan ladang-ladang harus bebas dari “empat makhluk jahat”—burung, tikus, serangga, dan lalat.

Dalam konsep, visi itu memang hebat. Namun dalam praktik, visi Mao dianggap terlalu utopis—bahkan oleh para pejabatnya sendiri. Para petani yang dipaksa bekerja lebih keras itu tidak sempat memetik hasilnya karena jatuh kelelahan dan mati, sementara “empat makhluk jahat” yang dibasmi kemudian menciptakan ketidakseimbangan alam. Hasilnya, sepanjang 1958-1961, lebih dari 30 juta orang meninggal karena kelaparan.

Di masa sekarang, banyak pengamat melakukan kajian terhadap Revolusi Kebudayaan di Cina, termasuk Partai Komunis Cina dan pendukung gerakan demokrasi Cina, dan mereka menghasilkan kesimpulan yang kontroversial.

Pendukung gerakan demokrasi di Cina memandang Revolusi Kebudayaan adalah akibat jika demokrasi dibatasi, dan mereka menyalahkan Partai Komunis Cina. Sementara Partai Komunis Cina memandang Revolusi Kebudayaan adalah akibat tindakan seseorang yang terlalu memuja diri sendiri dan memanipulasi publik untuk menghancurkan partai dan lembaga pemerintahan.

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Artikel Terkait Sejarah

5 komentar:

  1. terima kasih untuk informasinya :) kebetulan saya sedang ada tugas dari dosen untuk mencari apa itu revolusi kebudayaan china. tulisan anda sangat membantu. terima kasih

    BalasHapus
  2. Lompatan jauh ke depan itu sebagai visi revolusi kebudayaan atau revolusi kebudayaan itu ada sbg reaksi kegagalan lompat jauh ke depan? Bingung se :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Lompatan jauh ke depan" versi Mao adalah visi revolusi kebudayaan yang digagasnya.

      Hapus