Apa yang Dimaksud Glasnost dan Perestroika?


Akibat terlibat perang dingin melawan Amerika dan sekutu-sekutunya di blok Barat dalam perebutan pengaruh ideologi dan politik global yang berkepanjangan, Uni Soviet pun mengalami kekalahan dalam hal ekonomi serta politik di dalam dan luar negeri.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mengusulkan restrukturisasi negara melalui kebijakan Perestroika dan Glasnost, pada 6 Maret 1986. Kebijakan itu memperoleh sambutan hangat dari rakyat, tetapi dikecam oleh golongan ortodoks yang menilai tindakannya terlalu ekstrim.

Perestroika adalah istilah Rusia untuk reformasi politik dan ekonomi. Perestroika berarti “restrukturisasi”, merujuk pada restrukturisasi ekonomi Soviet. Perestroika sering dianggap sebagai akibat jatuhnya komunis di Uni Soviet dan Eropa Timur, dan mengakhiri Perang Dingin.

Glasnost adalah keterbukaan dalam semua bidang di dalam institusi pemerintahan Uni Soviet, termasuk kebebasan informasi. Kata “glasnost” digunakan pertama kali di Rusia pada akhir 1850, juga menunjuk pada periode sejarah yang menggambarkan kebebasan berinformasi selama tahun 1980-an.

Cita-cita Gorbachev untuk membangun negaranya itu ternyata justru menjadi bumerang. Akibat adanya keterbukaan, partai komunis yang berkasa di Soviet kehilangan kontrol terhadap media. Kalangan pers pun kemudian leluasa menyingkap berbagai borok pemerintah, termasuk korupsi dan penyalahgunaan wewenang lainnya.

Kebebasan dan keterbukaan itu juga membuat rakyat Uni Soviet semakin berani menyuarakan ketidakpuasan terhadap buruknya kondisi dalam negeri. Keadaan itu semakin parah akibat kian maraknya pertikaian antar etnis. Pada akhirnya, upaya restrukturisasi itu memicu perpecahan di Uni Soviet, dan menjadikannya bubar secara resmi pada tanggal 26 Desember 1991.

Hmm... ada yang mau menambahkan?


Artikel Terkait Sejarah

6 komentar: